suratkabar.com

Love Bali

Domain For Sale


suratkabar.com
News Indonesia SuratkabarCom

Breaking News.....

Kebingungan Masih Dirasakan di Wajah Mereka
28/12/2003 (21:00)


TOKYO (SuratkabarCom) - Setelah ditinggal suami, setelah tubuhnya terluka, bahkan sempat pingsan saat tragedi Bali 12 Oktober lalu, ternyata sampai kini pun kebingungan masih terasa di wajah dan pikiran para korban hingga saat ini.

┼gSaya tak tahu dan masih meraba-raba apa yang mesti saya lakukan untuk kehidupan mendatang bersama dua anak saya,┼h kata Zuniar NR yang mengaku hingga Hari Natal kemarin belum mendapat kabar mengenai kehilangan suaminya saat terjadi pemboman di sebuah Club, Kuta di mana suaminya berada saat itu.

┼gKabar dari pihak keamanan baik dari Indonesia maupun Australia tetap saya nantikan mengenai identifikasi dan tubuh suami saya, tapi belum ada kabar hingga kini. Saya masih tetap menantikan, menunggu sampai kapan pun,┼h lanjutnya dengan mata setengah berkaca-kaca saat menceritakan kisahkan kepada koordinator penyumbang dana Bali dari Jepang tanggal 26 Desember lalu di Hotel Bali Dynasty Kuta.

Kebingungan juga masih melekat kuat di wajah dan hati dua anak muda yang terhantam pecahan bom baik di kaki maupun di kepalanya, khususnya bagian kiri. Maximus Wangge dan Kanisius Johardi mengaku tak tahu apa yang mesti dilakukan mereka di masa mendatang, ┼gDengan kaki yang masih sakit seperti ini, mungkin saja akan tetap terasa sakit sampai kapan pun juga, tak bisa berjalan dnegan normal lagi. Saya bingung apa yang mesti saya kerjakan nantinya,┼h kata Maximus yang sebelum ledakan mengakui berjualan minyak.

Sekeping benda kecil pun menyangkut di kepalanya dan sangat berbahaya sekali bagi kesehatannya. Bahkan pamannya mengatakan, tak tahu apa yang mesti dilakukannya karena apabila benda itu diambil dari dalam kepalanya, bukan tidak mungkin berdampak kelumpuhan kepada tubuhnya. Olehkarena itu tim dokternya mengobati luka kepalanya itu dengan ekstra hati-hati.

Bantuan dari Jepang baru-baru ini yang tidak seberapa besar, Rp.1,2 juta, dianggap mereka cukup membantu meringankan beban stress pikiran mereka yang masih bingung mencari-cari apa yang mesti dilakukannya di masa depan.

┼gSaya senang sekali cara pemberian bantuan tidak sekaligus, dikirimkan setiap bulan selama setahun. Jadi uang bantuan yang akan saya pakai buat sekolah anak-anak itu pasti akan sangat kami, khususnya kelangsungan sekolah anak-anak,┼h papar Soniyah, ibu Agus Suheri yang meninggal saat bekerja sebagai tukang ojek dan mangkal di lokasi pemboman Sari Club.

***

Bantuan dana kemanusiaan untuk korban ledakan di Bali, yang terkumpul lebih dari Rp.48 juta dari 80% warga Jepang dan sisanya 20% dari warga Indonesia maupun warga negara lain yang ada di Jepang, dilakukan selama satu setengah bulan oleh koresponden Kompas di Jepang setelah mendapat dukungan penuh dari pihak Garuda Indonesia maupun Hotel Bali Dynasty Kuta.

Bantuan diberikan kepada para korban ledakan maupun anak-anak korban ledakan, sehingga jumlahnya sebanyak 12 jiwa. Masing-masing menerima Rp.100.000,- sebulan sejak Desember 2002 sampai dengan November 2003.

Pemberian pertama kali khusus disampaikan untuk lima bulan di muka, sampai dengan April 2003, sehingga 12 orang menerima masing-masing Rp.500.000,-. Sisanya akan diterima lewat Bank BCA setiap bulan mulai Mei 2003 sebesar Rp.100.000,- per orang.

Pengumpulan dana yang dilakukan di Jepang memang bukan hal yang mudah. Namun dari berbagai pengalaman dan kendala yang dihadapi, bisa dikatakan warga Jepang ternyata memiliki rasa prihatin yang tak kalah besarnya dengan bangsa Indonesia sendiri.

Bahkan ada pula penyumbang yang tidak diketahui dari mana asalnya, namun ikut memberikan bantuan sumbangan, langsung transfer ke rekening bank yang tersedia untuk sumbangan ini. Bisa dilihat lengkap rincian di http://LoveBali.Com

┼gSaya pernah di Indonesia cukup lama dan kejadian ledakan di Bali sangat memilukan hati kami. Prihatin sekali dengan keadaan itu. Mengapa tempat yang selama ini kita kenal sebagai tempat aman, nyaman, indah, dan memang tempat istirahat bagi kebanyak orang Jepang, tahu-tahu, mendadak dihancurkan kalangan teroris seperti itu. Benar-benar tak dapat dimaafkan,┼h papar Haramiishi yang pernah bekerja di Bank Tokyo Mitsubishi di Jakarta di masa lalu dan kini bekerja di sebuah lembaga penelitian Institute for International Monetary Affairs.

Keprihatinan mendalam warga Jepang, memang hanya terlihat kepada mereka yang pernah mengenal dan mencintai Indonesia.Bahkan pernah ke Indonesia khususnya ke Bali sehingga bencana Bali benar-benar terasa menusuk hati mereka sehingga perasaan sedihnya langsung merangsang mereka mengulurkan bantuannya ke dalam dompet bencana Bali tersebut.

Meskipun begitu, bagi yang belum pernah ke Indonesia atau ke Bali pun, banyak warga Jepang yang sangat mencela tindakan terorisme tersebut, marah bukan main, melihat pulau yang dianggapnya sebagai pulau dewata, hancur berantakan gara-gara bom luar biasa itu.

Lepas dari mereka yang mengetahui adanya ledakan di Bali, ternyata sampai dengan akhir Oktober, dua minggu setelah ledakan Bali, walaupun telah diberitakan semua media massa Jepang, cetak, radio, televisi dan sebagainya, ternyata ada pula warga Jepang yang tak tahu ada ledakan di Bali.

┼gYang benar aja, masa sih ada ledakan di Bali?┼h tanya tiga wanita Jepang yang terkaget bukan main, setengah tak percaya karena tak tahu, tak sempat baca Koran dan tak sempat lihat berita TV, mengingat kesibukannya saat itu. Setelah dijelaskan dengan serius, barulah mereka percaya dan mengakui sangat sedih mengetahui kejadian itu. Meskipun demikian, ketiganya mengakui tahu benar mengenai Bali dan ingin sekali ke Bali kalau ada kesempatan.

***

Memang kecintaan warga Jepang terhadap Bali sesungguhnya luar biasa dalam. Citra aman yang selama ini terpendam di hati nurani mereka, terus terang berkurang setelah ledakan itu.

Tak heran saat pergi ke Bali menggunakan Garuda Indonesia tanggal 24 Desember, hanya 98 orang penumpang pesawat itu dan mungkin 90% turun di Bali. Lalu pulang ke Tokyo dari Bali, jumlahnya lebih sedikit lagi, hanya 70 orang dari kapasitas penuh pesawat yang bisa memuat sekitar 280 penumpang.

Bisa dibayangkan, telah dua bulan berlalu, termasuk di bulan Desember akhir tahun ini, ternyata kapasitas penumpang Garuda Indonesia jauh masih belum bisa mencapai 50% dari kapasitas utuhnya. Padahal dulu sebelum terjadi ledakan, rata-rata mungkin bisa berisikan sekitar 60-70% kapasitas penumpang dalam satu tahunnya.

Sementara para korban masih kebingungan, pesawat menuju Bali bisa dikatakan masih kosong, walau Garuda Indonesia tampak mati-matian membuat promosi dan mengundang banyak wartawan Jepang berkunjung ke Bali baru-baru ini, tetap saja kepercayaan masyarakat Jepang terhadap Bali masih belum pulih.

Sedangkan di bandara Ngurah Rai dengan puluhan took yang ada, tetap menawarkan barang-barang budaya Indonesia dengan harga melambung dan turis pun kebanyakan hanya melihat-lihat saja, jarang yang membeli.

┼gBanyak karyawan bekerja di took-toko di bandara ini yang sudah di-PHK, pak,┼h papar Ani, seorang petugas toko makanan di bandara Ngurah Rai.

Pengangguran yang diperkirakan akan menjadi ┼gbom┼h kedua di Bali memang sudah di ambang pintu. Tak heran para korban yang kebanyakan orang Bali atau yang tinggal di Bali, juga ikut merasakan keresahan itu.

┼gKalau suasana masih tetap sepi seperti sekarang, saya tak tahu lagi harus kerja apa. Dulu sebelum bom meledak, saya suka mengantar-antar tamu asing. Kini mereka praktis tak ada lagi dan berarti kami tak akan dapat penghasilan apa-apa lagi,┼h papar Wayan Suarthana dan I Putu Agus Sukandiasa, yang keduanya korban, terluka kena pecahan ledakan pada kaki dan badan, penerima dana kemanusiaan Bali dari warga Jepang pula.

Suasana di Bali sampai dengan akhir tahun 2002 memang masih tetap suram. Tapi berbagai aksi kemanusiaan pun diadakan berbagai pihak. Tak urung pula termasuk yang memanfaatkan situasi kondisi ini sebagai komoditi mencari uang dan keuntungan pribadi seperti dipaparkan dalam tajuk rencana Koran Denpasar Post 27 Desember 2002.

Memang kita perlu meluruskan, membenahi dan menata kembali Bali agar tak menjadi bulan-bulanan pihak ketiga yang justru memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Namun terlebih penting lagi, mendidik kesadaran para korban agar mereka bisa bangkit berdiri dan tak menyandarkan diri dari bantuan saja. Berani melihat ke muka bahwa masa depan sebenarnya masih panjang dan bisa diraih dengan baik apabila dilakukan kerja keras.

Semua penerima dana kemanusiaan memang berkata, ┼gIngin menabung uang bantuan yang diterima, menggunakan dengan sebaik mungkin dan menggunakan untuk anak-anak-anaknya.┼h Hal ini memang sesuai yang diinginkan para penyumbang dari Jepang pula. Tetapi dalam kenyataan mendatang nanti, apakah bantuan itu akan dipakai dengan benar? Kembali kepada diri masing-masing untuk bisa menahan diri dan melihat ke masa depan.

Kontrol diri sangatlah penting bagi mereka. Seperti kata peribahasa, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dulu bersenang kemudian. Bisakah mereka melakukan itu? Mungkin tugas kalangan masyarakat sekitar dan pemda setempat untuk mendidik rakyatnya sejak dini guna menciptakan suasana disiplin hidup yang baik, sehingga peribahasa di atas tidak hanya di mulut dan kata-kata saja, tapi bisa dilaksanakan dengan baik.

Masih banyak pekerjaan bagi rakyat dan pemda Bali untuk bisa bangkit berdiri dengan baik. Belajar dari pengalaman masa lalu yang sangat tergantung dengan para wisatawan, ada baiknya mengubah kendali dengan menggali kemampuan diri menjadi daerah yang mampu berdikari, tak lagi bersandar kepada kehadiran orang lain.


HOME | Today's News | Shopping | Add URL

Copyright 1999-2002 © SuratkabarCom Online