Back | HOME


KOMPAS, Selasa, 12 Oktober 2004

Perjuangan Korban Bom Bali Pertahankan Hidup

SEBUAH rumah di Jalan Raya Pemogan 135, Denpasar Selatan, Bali, sejatinya adalah rumah tinggal keluarga. Setidaknya, sejak Maret 2003 dari rumah tiga kamar dan satu ruang tamu itu selalu terdengar kesibukan mesin jahit beroperasi. Namun, Sabtu (9/10) menjelang siang tempat itu begitu sepi. Tidak lagi terdengar mesin jahit beroperasi sebagaimana hari-hari sebelumnya.

Di ruang tamu tampak dua ibu setengah baya sedang bercakap-cakap dengan akrab. Entah apa tema kisahnya, namun keduanya tiba-tiba bubar ketika mengetahui ada pengunjung bertamu.

Setelah terlibat dalam percakapan, diketahui rumah keluarga itu memang adalah tempat usaha para janda korban peledakan bom Bali, 12 Oktober 2002. Tempat usahanya sendiri bernama lengkap Adopt-A-Co-Op Smile for Life Widows of Bali Bombing, yang lazim disingkat Adopta. Di sanalah sejumlah janda berjuang mempertahankan hidup dengan menggeluti usaha menjahit pakaian pesanan. Mereka adalah Ni Luh Erniati, Ketut Jontri, Rastini, Endang Isnanik, Warti, dan Leniasih.

Dua janda yang berada di ruang tamu Adopta itu adalah Ny Endang Isnanik (33) dan Ny Zuniar Nur Aini (44). Zuniar juga janda akibat tragedi yang sama, tetapi bukan komunitas Adopta. "Saya menetap di Situbondo (Jawa Timur), baru tiba di Denpasar kemarin (8/10) atas undangan menghadiri peringatan dua tahun bom Bali, tanggal 12 Oktober ini," tutur janda dua anak tersebut.

Terang sudah titik temu keintiman kedua ibu setengah baya itu. Sama-sama menjadi janda akibat kekejaman bom Bali. Titik temu lainnya, suami Endang, Aris Munandar, dan suami Zuniar bernama Asroyo Rahmat sama-sama bekerja sebagai pengemudi mobil sewaan yang selalu mangkal dan mengais rezeki di sekitar Kafe Sari Club dan Paddyfs Pub di Legian, dua titik ledakan berdekatan di Kuta. Aris dan Asroyo juga diketahui bersahabat dekat dan sama-sama menjadi korban ledakan bom Bali di tempat mangkal-nya itu.

Endang, yang kini menjanda dengan tiga anak, masih sempat menyaksikan mayat suaminya yang tewas terpanggang dalam mobilnya yang terbakar.

Zuniar, yang tidak mengikuti suaminya ke Bali karena usaha menjahit yang ia geluti sejak lama di Situbondo, justru baru memperoleh kepastian bahwa Asroyo telah tiada pada enam bulan setelah ledakan bom Bali. "Kepastian kematian Mas Asroyo itu diketahui setelah melalui pemeriksaan DNA," tuturnya dengan linangan air mata.

TIDAK menjahit? Endang mengakui usaha mereka belakangan ini sedang sepi. "Kami menjahit atas orderan dari luar. Orderan lagi sepi dan kebetulan kami juga sedang siap-siap mengenang dua tahun bom Bali," tutur ibu dari Garil Arnanda (12), Dwiga Meyza (7), dan Izzulhag Trigi (4) itu.

Dua janda komunitas Adopta lainnya, Ny Warti (25) dan Ny Ketut Jontri, mendukung penjelasan Endang.

"Usaha kami belakangan ini memang sepi. Sementara kontrakan rumah tempat usaha ini sudah akan berakhir Januari 2005. Kami tidak tahu bagaimana kelanjutan usaha dan hidup kami," kata Warti, janda seorang anak bernama Rachmat Hidayat (6). Suami Warti yang bernama Faturrachman bekerja sebagai pengemudi mobil pimpinan perusahaan Haagen-Dazs Ice Cream di kawasan Kuta.

Ia mengisahkan, pada malam naas itu Faturrachman tewas akibat ledakan bom di Legian, Kuta, sesaat setelah mengantar bosnya meeting.

"Mas Faturrachman terakhir kontak ketika ia terjebak dalam kemacetan di sekitar Sari Club dan Paddyfs Pub di Kuta. Selanjutnya hingga peledakan terjadi tidak pernah kontak lagi. Saya menjadi sangat panik dan ketakutan. Ternyata benar, suami saya juga menjadi korban kekejaman bom Bali," tutur Warti sendu.

Duka akibat tragedi terus saja menyelimuti para janda korban bom Bali ini. Kecuali itu, mereka, terutama para janda komunitas Adopta, kini juga dilanda kecemasan terkait dengan nasib usaha sebagai tumpuan hidup bersama anak-anak mereka.

Usaha menjahit Adopta sejak awal berjalan berkat santunan pasangan David dan Moyra. Warga Australia itu, menyusul peledakan bom Bali, langsung berupaya menolong para korban itu. Awalnya ia berhasil menemui sebagian korban, kebetulan para janda di Bali. Setelah berdiskusi dengan para korban, akhirnya disepakati membuka usaha menjahit sebagai tumpuan hidup, sejak Februari 2003.

Pasangan David dan Moyra langsung mengontrak rumah keluarga yang kini menjadi tempat usaha Adopta. Nilai kontraknya Rp 10,5 juta per tahun. Sang penyantun juga sudah melunasi pembayaran kontrak setahun terakhir yang berlangsung hingga Januari 2005. Selain itu, David dan Moyra juga menyumbang mesin jahit enam unit, mesin obras (2), dan lainnya, mendukung usaha Adopta.

Mengetahui para janda bukan penjahit, David dan Moyra bahkan harus membayar penjahit profesional sebagai tutor selama tiga bulan pertama. Setelah para janda bisa menjahit sendiri, ternyata David dan Moyra harus pulang ke negara asalnya dan tidak kembali lagi ke Bali hingga sekarang akibat persoalan terkait dengan keimigrasian.

Meski tidak lagi secara fisik bersama komunitas Adopta, David dan Moyra ternyata masih melanjutkan bantuan kemanusiaannya bagi para janda ini. Sesuai dengan konsep awal, para janda tidak mengandalkan penghasilan dari usaha menjahit. Hasil yang diperoleh sepenuhnya mengisi kas Adopta untuk membeli bahan baku. Para janda itu mendapat santunan bulanan. Pada bulan-bulan awal tragedi bom itu, mereka menerima santunan Rp 550.000 per bulan. Selanjutnya naik menjadi Rp 650.000 dan sejak Oktober ini naik lagi menjadi Rp 1 juta per bulan.

Menurut keterangan yang diperoleh Kompas, santunan yang meningkat belakangan itu setelah Adopta juga memperoleh bantuan tambahan dari seseorang bernama Jim, juga warga Australia.

MESKI santunan naik menjadi Rp 1 juta per bulan, serta biaya sekolah 12 anak dari para janda tersebut ditanggung Yayasan Kids, tetap saja kecemasan kini melanda komunitas Adopta. Kecemasan itu beralasan karena order jahitan yang mereka peroleh kian sepi. Sementara itu, sebagaimana diakui Endang, hingga kini belum ada kabar dari penyantun David dan Moyra tentang kelanjutan kontrak rumah sebagai tempat usaha Adopta. "Kami belum mampu membayar nilai kontrak hingga Rp 10,5 juta. Syukur kalau David dan Moyra masih bersedia membayarnya," paparnya.

Selain berharap Adopta tetap "hidup", para janda itu sebenarnya sering mendiskusikan tentang kemungkinan membuka usaha lain, seperti warung makan atau jualan lainnya. Namun, kesulitan modal adalah kendalanya. (ANS)