First Created - November 9, 1998


Berburu Perangko Habibie - Perangko bisa menjadi ajang investasi menarik
[Tabloid Kontan, edisi 7/III/1998 - tanggal 9 November 1998]


Oleh Hasbi Maulana, Thomas Hadiwinata, Iwan Hidayat

Bosan dengan deposito, surat berhaga, saham, obligasi, atau wahana investasi lain? Kebetulan, dulu Anda pernah mengoleksi perangko. Nah coba simak, menjadi kolektor perangko ternyata bisa menjadi ajang investasi yang bisa menghasilkan rendemen lebih besar ketimbang simpan duit di bank.

Ada kabar, pengusutan asal-usul harta mantan Presiden Soeharto dihentikan. Soalnya, setelah diselidiki, ternyata sebagian besar kekayaannya berasal dari royalti foto dirinya yang selama ini terpampang pada perangko.›

Eeitt, nanti dulu, kabar di atas memang sekadar guyonan yang sekarang sedang ngetop. Tapi, tak ada yang bisa menyangkal bahwa foto Presiden Soeharto memang paling banyak dipakai sebagai gambar perangko. Buktinya, menurut katalog perangko Indonesia 1988, sejak tahun 1974, foto diri Soeharto berpeci sudah menghiasi perangko Indonesia. Tapi, justru karena terlalu banyak jumlahnya itulah perangko seri Soeharto hingga kini tidak begitu laku di bursa perangko.

Lain dengan perangko bergambar Presiden Habibie. Perangko seri mantan Menristek ini, sekarang sedang dicari-cari orang. Para pengumpul perangko ternyata telah berspekulasi bahwa Habibie tak akan lama menjadi presiden. Jadi, perangko yang bergambar foto dirinya bakal sedikit jumlahnya. Di kalangan pedagang perangko ada hukum dagang yang dianut para kolektor. Semakin sedikit sebuah seri perangko dicetak, semakin mahal harganya. Jumlah cetakan tentu akan mempengaruhi jumlah perangko yang ada. Semakin sedikit cetakan tentu akan semakin sedikit perangko yang akan tersisa. Jadi, seperti halnya barang dagangan lain, harga perangko juga ditentukan oleh pasokan dan permintaan. Kalau pasokan sedikit, sementara permintaan banyak, maka harga akan naik.

Contoh telaknya adalah salah satu perangko koleksi Ketua Umum Asosiasi Pedagang Perangko Indonesia (APPI) Said Faisal Basymeleh. Said memiliki sepotong perangko seharga Rp 200 juta. Perangko bergambar Ratu Wilhelmina ini terbitan pemerintah Hindia Belanda tahun 1864. Pada masa penjajahan Jepang, perangko jenis ini masih dipakai, cuma sudah dibubuhi tulisan Jepang. Begitupun ketika Indonesia merdeka, perangko ini juga masih laku untuk berkirim surat, tapi huruf kanjinya sudah ditimpa dengan tanda pagar miring dan ditambahi kata "Repoebelik Indonesia". Menurut Said, sampai sekarang perangko itu tinggal ada dua di dunia. Satu miliknya, dan satu lagi dimiliki kolektor asing. "Saya sendiri memburunya hingga ke Belanda," katanya.›

Keuntungannya melebihi deposito

Bagi yang tahu, seperti Said tadi, berburu perangko bukan sekadar hobi. Tapi, sebuah langkah investasi. Keuntungannya tak kalah dengan bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Kalau bunga SBI paling tinggi mencapai 70% lebih, tingkat imbal hasil yang istilah kerennya return on investment dalam investasi perangko bisa mencapai 100%. "Tapi, itu tidak untuk semua seri perangko lo," kata Suwito salah seorang broker perangko ternama. Memang, seperti halnya saham, tidak semua perangko bisa dibeli untuk tujuan investasi. Suwito memperkirakan hanya sekitar 10% dari semua seri perangko yang ada yang menjanjikan keuntungan sebesar itu.›

Salah satu contoh perangko yang harganya meningkat pesat adalah seri fauna bergambar orang utan terbitan tahun 1989. Menurut Ryantoro, Sekjen APPI, perangko yang harga nominalnya antara Rp75-Rp 500 itu sekarang telah berharga sekitar Rp 1 juta per buah. "Jadi, yang sekarang memegang perangko itu dalam jumlah banyak, boleh dikata bisa kaya mendadak," kata Ryantoro. Itulah sebabnya, para kolektor dan broker perangko yang dihubungi KONTAN rata-rata tetap optimistis menanamkan uang dalam bentuk kertas-kertas kecil itu. Menurut para penggemar perangko yang lazim dikenal sebagai filatelis ini, jual beli perangko belakangan ini semakin marak dengan semakin bany aknya penggemar perangko.›

Apalagi, dibanding dengan negara-negara lain, jumlah perangko yang dicetak di Indonesia masih terbatas. Rata-rata setiap seri hanya dicetak sejuta keping. Dari jumlah sebanyak itu, hampir semuanya dipakai untuk surat menyurat dan hilang entah ke mana. "Yang tersisa hanya sedikit," kata Suwito. Dan itulah yang menjadi rebutan di antara kolektor dan pedagang. "Pokoknya, kalau sekarang laku itu baik, tapi jika tidak laku itu lebih baik," kata Ryantoro. Maksudnya, kalau sekarang tidak laku, berarti masih ada peluang si kolektor mendapat harga yang lebih baik di masa mendatang. Karena itulah investor perangko asal Surabaya ini tak merasa sayang menghabiskan Rp 5 juta setiap bulannya untuk belanja perangko.›

Meski agak malu-malu, Said juga mengaku bahwa melalui investasi perangko yang telah dilakukannya sejak kanak-kanak, ia cukup mendapat kepuasan finansial. Kolektor yang koleksinya saat ini bernilai miliaran rupiah ini mengaku tidak pernah mengambil modal dari bisnisnya yang lain untuk investasi perangko. "Seluruh investasi perangko yang saya punya sekarang berasal dari keuntungan jual beli perangko saya yang terdahulu," katanya. Bukan hanya itu, berkat perangko ini pula Said mampu melanglang buana, baik untuk berburu perangko maupun untuk memamerkan koleksinya.›

Dengan katalog mendongkrak harga

Selama ini banyak orang mengira bahwa mengoleksi perangko hanya hobi masa kanak-kanak yang terbawa dan berlanjut sampai tua. Anggapan itu tak sepenuhnya keliru. Di Indonesia sendiri, sebelum 1990 perangko bukan sarang yang cocok untuk dijadikan arena mengeruk rezeki. "Hingga 1990 harga perangko Indonesia tak pernah naik," kenang Suwito. Setelah tahun itu barulah APPI menerbitkan katalog perangko Indonesia, maka harga perangko di pasar juga ikut bergerak. Katalog perangko ini selain berisi berbagai daftar dan gambar perangko, yang paling penting juga ada harga patokannya. Memang, tak bisa disangkal bahwa harga yang ditentukan dalam katalog tadi bisa dibilang subyektif. Karena yang menyusun katalog para pedagang perangko juga. Namun, bagaimanapun, adanya katalog inilah yang membuat pasar perangko likuid. "Sebelum tahun 1990, kita memakai katalog terbitan Belanda. Tapi, karena harga yang mereka cantumkan tidak naik-naik, ya pasar perangko di Indonesia jadi tidak bergairah," sambung Suwito.

Nah, sejak adanya katalog perangko Indonesia, baru pasar perangko mulai bergairah. Seiring dengan itu jumlah filatelis pun ikut membengkak. Tahun 1990, jumlah anggota Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) baru bejumlah 10.000, tahun ini jumlahnya sudah› 840.000 orang.›

Saat ini perangko Indonesia pun sedikit demi sedikit mulai merambah bursa perangko internasional. Meskipun baru populer di Amerika Serikat dan Belanda, namun jumlah permintaan dan harganya telah meningkat pesat. Menurut Ryantoro, baru-baru ini di pelelangan perangko di Belanda, jumlah perangko Indonesia yang dilelang mencapai 40 kali lipat dari biasanya.›

Tentu saja, kondisi pasar perangko yang semakin bullish ini membuat para filatelis menanti rezeki mampir. Anda ingin menjadi salah satu yang kecipratan? Simak tip buat calon investor perangko yang disarikan KONTAN dari petuah para kolektor dan pedagang perangko senior.››››››

Tips untuk Pemula

1. Sejak sekarang, coba untuk selalu membeli setiap seri perangko terbitan kantor pos. Mana yang berpotensi laku dan yang tidak akan tersortir dengan sendirinya kelak.

2. Jangan terjebak pada keindahan desain perangko. Ingat, patokannya adalah jumlah barang.

3. Perkayalah khasanah pengetahuan "perperangkoan" Anda dengan menyimak majalah perangko, katalog, rajin mendatangi bursa perangko dan lelang perangko yang diselenggarakan dengan rutin di kantor-kantor pos. Dari sana, Anda bisa membangun jaringan dan tidak begitu tergantung pada broker.

4. Konsentrasilah pada perangko satu negara. Koleksi perangko beberapa negara lain boleh-boleh saja asal tahu kondisi pasarnya. Paling mudah tentu saja mengoleksi perangko Indonesia.›

5. Untuk investasi pada perangko-perangko terbitan lama, mintalah nasihat dari para broker dan kolektor yang lebih senior. Tentu saja jangan gampang percaya pada nasihat satu dua orang. Bagaimanapun menjaring pendapat banyak orang lebih mengecilkan risiko terjerumus mengumpulkan perangko sampah.

6. Meskipun jarang sekali terjadi harga perangko merosot, jangan mengambil risiko investasi pada satu macam perangko saja.

7. Usahakan selalu bisa mengumpulkan perangko dalam satu seri utuh. Setiap seri perangko biasanya tediri dari beberapa keping perangko yang berbeda desainnya. Tapi jangan sampai lupa berusaha mengumpulkan perangko dalam blok. Maksudnya, membeli satu renteng perangko dengan corak sama, tanpa perlu menyobek lobang-lobang pemisahnya. Perangko dengan seri lengkap biasanya lebih mahal ketimbang per keping. Jumlah dan macam keping setiap seri bisa dilihat dari katalog perangko.›

8. Usahakan mendapat perangko yang belum pernah terpakai (mint). Kecuali perangko-perangko terbitan zaman revolusi (1945-1949), perangko segar ini relatif lebih mahal ketimbang yang sudah terpakai. Sebaliknya, perangko bekas terbitan masa revolusi fisik lebih mahal harganya, karena pada masa itu perangko yang terpakai untuk berkirim surat justru sangat sedikit.

9. Hindari perangko terbitan tahun 1950-1960 karena pada masa-masa itu setiap seri perangko dicetak dengan jumlah terlalu banyak. Juga hati-hati terhadap setiap perangko terbitan tahun 1994, semua perangko terbitan masa itu bisa direkayasa gambar dan huruf-hurufnya.

10. Buatlah komposisi koleksi semenarik mungkin. Sertakan dalam perlombaan. Karena jika koleksi Anda mendapat perhatian pasti harganya akan diperhatikan juga. Syukur-syukur kalau Anda menang.›

11. Bongkar lemari-lemari lama milik keluarga. Siapa tahu ada sisa perangko yang dipakai kakek untuk berkirim surat cinta kepada nenek di zaman Jepang dulu. Bisa saja nilainya sekarang sudah jauh melebihi nilai cinta si kakek kepada nenek.

12. Terakhir, jangan sampai lupa bahwa koleksi Anda untuk investasi bukan untuk persediaan kalau mau kirim surat, he..he..he...››››› (B-8)

Highly appreciated for your suggestions



Back to Clippings Philately | Return to Philatelic Homepage