suratkabar.com

Domain For Sale


suratkabar.com
News Indonesia SuratkabarCom

A Gift For You.....

Ide Investasi Filateli Harus Diredam
26/04/2002 (02:46)


TOKYO (LoveIndonesiaPhilately) - Dunia mengumpulkan prangko di Indonesia bisa dikatakan cukup hidup. Pemikiran mengenai hobi ini bermunculan beraneka ragam. Perlu pelurusan citra lebih lanjut mengenai filateli sebelum salah kaprah bahkan menjadi salah jalan.

Pergerakan dunia filateli tak bisa lepas dari perkembangan dunia ekonomi Indonesia. Di saat sulit perekonomian, tampaknya banyak yang berusaha menjual koleksinya. Lebih parah lagi, berharap berharga mahal, agar kehidupan bisa berjalan lancar akhirnya.

Menghadapi pasar yang ada, ternyata koleksi prangkonya dihargai biasa saja, kecewa luar biasa, bahkan berujung membenci filateli, "Buat apa ngumpulin prangko sejak dulu kalau dijual cuma dihargai segini?" keluh sang kolektor.

Di pihak lain, PT Pos Indonesia terlanjur mengkampanyekan dengan kata "Filateli dan Investasi". Artinya, sambil mengumpulkan prangko kita juga berinvestasi. Benarkah demikian?

Pada kunjungan penulis ke Jakarta 22 Maret lalu, hal ini juga menjadi topik pembicaraan menarik. Bahkan menengahi pro dan kontra, penulis mengatakan, "Sebaiknya jangan pakai kata investasi. Lebih baik menggunakan kata menabung, lebih anggun dan tidak bersifat komersial, karena memang filateli bukanlah hobi komersial."

Prangko memang benda komersial, untuk dipakai sehari-hari dan diperjual-belikan. Tetapi filateli adalah hobi mengumpulkan prangko. Kalau suatu hobi sudah menjadi komersial, hal itu bukanlah hobi lagi, tetapi sudah berubah sifatnya menjadi pedagang.

Dengan demikian filateli sepantasnya bergerak dan ditekankan kepada unsur hobi, unsur pendidikan, unsur kenikmatan pribadi, unsur pengembangan diri dan bukan malah sebaliknya, ke arah perdagangan, untung rugi dan bisa mengesalkan sesama kita.

Memang wajar-wajar saja kolektor mengharapkan imbal balik, bila mengumpulkan maka akan menjadi mahal suatu waktu. Wajar sekali pemikiran ini. Tetapi bukan berarti kita mengumpulkan prangko berarti melakukan investasi. Kalau sebagai pedagang, memang jels berinvestasi. Sebagai pengumpul prangko, justru harus melihat segi- segi yang disebutkan tadi di atas.

Kolektor bisa terbentuk menjadi manusia yang lebih baik. Contoh konkrit, dengan mengumpulkan prangko, kolektor bisa menjadi manusia yang kritis, manusia yang teliti, penyabar dan memiliki pengetahuan luas mengenai dunia, belajar dari berbagai prangko dunia.

Semua ilmu dan hasil pembentukan karakter itu jauh lebih berarti, jauh lebih berharga dari sekedar benda filateli itu sendiri.

Pemilikan ide filateli sebagai investasi sejak awal seorang kolektor mengumpulkan prangko, bisa dipastikan kolektor itu akan kecewa berat. Kecuali apabila memang sejak awal sang kolektor berhasrat menjadi pedagang prangko. Itu pun akan menjadi pedagang prangko yang tanggung-tanggung, tak akan bisa sukses. Mengapa? Karena memang pengetahuan filatelinya rendah. Bukan tidak mungkin menemukan benda filateli disangka murah dan dijual murah, ternyata benda itu mahal. Atau, benda filateli itu dianggap bagus, ternyata benda filateli itu palsu, penjual sendiri tak tahu menahu atau tak sadar akan hal itu. Jelas pedagang ini tak akan sukses, akan segera ditinggalkan konsumennya.

Jadi sebenarnya ingin jadi pedagang atau kolektor murni, pengetahuan filateli mutlak dikuasai. Caranya, membaca dan mempelajari dari berbagai sumber yang ada, di dalam dan luar negeri. Apalagi telah ada internet, bisa berkeliling dunia, membaca pustakan filateli dari internet di kamar rumah kita sendiri.

Dulu atau sekitar 10 tahun lalu hal itu sulit dicapai karena belum ada internet, atau belum memasyarakat teknologi internet ini. Namun ini semuanya telah tersedia, tinggal manusianya sendiri, mau belajar atau tidak.

Lalu kalau kita melihat semboyan atau logo atau kata-kata kampanye pos mengenai filateli dan investasi, wajar-wajar saja. Lha Pos itu kan sebuah perusahaan, wajar kalau cari uang.

Namun yang tidak pas, kampanye itu dilakukan ke masyarakat luas. Jangan menyamaratakan masyarakat luas, yang juga ada unsur kolektor murni, dengan pedagang. Kalau bicara investasi, jelas-jelas mengarah ke soal jual-beli, berarti membentuk diri menjadi pedagang.

Apakah memang disengaja PT Pos Indonesia ingin masyarakat Indonesia menjadi Pedagang Filateli? Kalau memang itu yang diharapkan, memang Pos tidak salah.

Dengan demikian, sebenarnya kampanye Filateli dan Investasi sesungguhnya perlu lebih diarahkan kepada hanya Pedagang Prangko. Gampang bukan? Mengapa? Karena pedagang filateli di Indonesia bisa dihitung dengan jari. Tinggal kerjasama dengan APPI (Asosiasi Pedagang Prangko Indonesia), atau kalau Pos gengsi, jalan sendiri, mengumpulkan semua pedagang filateli, buat arahan, buat kampanye, buat seminar, kalau perlu buat semacam paguyuban yang diinisiatifkan oleh Pos, dan sebagainya, sehingga jelas dan memang benar-benar mengenai arah kampanye tersebut.

Melalui kelompok investasi Pos inilah mereka akan "bekerja" lebih luas lagi mempromosikan filateli ke masyarakat.

Sedangkan kepada kolektor murni atau masyarakat pemula yang baru saja mencium hawa filateli, alangkah baiknya kalau kepada mereka diperkenalkan filateli dan menabung, bukan investasi.

Apa bedanya menabung dan investasi? Jelas sangat berbeda. Menabung sendiri datang lurus dari diri kita terutama untuk memproteksi diri kita sendiri di masa mendatang, tanpa melihat pihak lain. Bisa saja kita sebutkan ada pihak lain, tabungan orangtua untuk anaknya. Itu tetap satu keluarga, bukan pihak lain. Menabung adalah kepuasan diri tanpa iming-iming ketakutan bakal gagal, karena memang sudah jelas, uang modal akan kembali, ditambah lagi bunga yang akan diperoleh nantinya.

Sedangkan investasi, apa pun yang bernama investasi, jelas-jelas untuk melibatkan pihak lain, untuk jual-beli, untuk cari untung, bahkan bisa menjadi perjudian dengan kata-kata "siapa tahu nantinya bisa begini dan begitu." Jelas investasi bukan muncul dari dalam diri kita sendiri secara murni, tetapi dimunculkan oleh si pribadi akibat pengaruh lingkungan dan bukan untuk proteksi diri kita sendiri, tetapi justru lebih kepada pengembangan diri secara material dengan kemungkinan berhasil atau gagal.

Dengan demikian sebenarnya ide kampanye khususnya mengangkat kata investasi, akan sangat tepat dan baik dengan arah yang lebih jelas yaitu para investor, para pedagang. Janganlah mengkampanyekan hal ini kepada masyarakat luas, apalagi ke sekolah-sekolah dasar dan sekolah menengah.

Untuk itu Pos harus ingat pula dirinya sebagai institusi yang memiliki kewajiban dan tanggungjawab moral serta unsur pendidikan yang melekat pada Perusahaan tersebut.

Ibaratnya, cari duit sebanyak-banyaknya sih boleh-boleh saja. Tapi jangan dengan menghalalkan segala cara, membenarkan semua cara, sehingga masyarakat yang tak tahu mengenai filateli, menjadi penggemar prangko gara-gara iming-iming yang berlebihan itu, dapat untung besar karena investasi.

Lebih penting lagi, sudah layak apabila Pos mengkonsentrasikan pula kepada bidang pengembangan pendidikan filatelinya kepada masyarakat luas.

Contoh nyata, bagaimana masyarakat luas mau dan bisa berpartisipasi bersama Pos menjaga kemurnian prangko terjauhi dari prangko palsu, apabila masyarakat sendiri tak tahu apa sebenarnya dasar-dasar sebuah prangko (kertas, gigi, ukuran, tinta cetak dan sebagainya).

Bila masyarakat mengerti dasar-dasar prangko, tak perlu orang Pos pintar berfilateli. Secara otomatis masyarakat sendirilah yang akan menyensor dan tak akan membeli atau menggunakan prangko palsu yang pasti akan merugikan Pos besar-besaran.

Dengan demikian sudah semakin jelas kini, bahwa Pos perlu merevisi kembali rencana kampanyenya mempopulerkan filateli. Akan lebih baik menyadarkan dan memasyarakatkan prangko terlebih dulu kepada sebanyak mungkin anggota masyarakat, daripada kampanye filateli dengan bumbu investasi.

Kampanye berbumbu investasi itu bisa dilakukan, tetapi perlu lebih jelas sasarannya yaitu para investor dan atau pedagang prangko. Jadi Pos tak perlu ke luar uang banyak-banyak untuk kampanye filateli berbau investasi ini karena sasarannya telah jelas.

Richard Susilo (Fri›Apr›26,›2002› 2:46 am)


From:› Abraham Sihombing  
Date:› Fri›Apr›26,›2002› 3:16 am
Subject:› RE: [PRANGKO] Ide Investasi Filateli Harus Diredam

Kalo harganya nggak tinggi/mahal...jadinya untuk apa dong...mendingan nggak
usah dikerjain aja...hobi sihh tinggal hobi...tapi bukankan lebih baik lagi
kalo hobi itu bisa menghasilkan pendapatan yang besar...sapa bilang kalo
hobi itu dilakukan u/ memperoleh pendapatan yang besar maka hal itu dibilang
komersil?

Contohnya...dulu saya juga suka men-setting car audio lengkap dengan power
sound-nya...saya suka melakukannya di mobil saya...ketika malem minggu lagi
ngeceng...temen2 melihatnya & minta dibuatkan setting seperti itu...karena
mereka suka...kemudian saya membuat setting u/ salah seorang temen ...dan
dia puas sehingga dia menceritakannya ke temen2 lainnya...(padahal saya
masih sebatas hobi, wkt itu)...kemudian lama2 kelamaan saya dikenal di
lingkungan temen2 wkt itu u/ mensetting car audio...bahkan sebuah tantangan
besar datang...saya disuruh mensetting car audio sebuah mercy tiger tahun
1989 yg wkt itu harganya boleh terbilang mahal...dan saya sukses
melakukannya...saya dibayar mahal wkt itu...setelah itu kerapkali temen2
lain (yg tajir) mensetting car-audio nya sama saya...tapi lama-kelamaan saya
jenuh (namanya juga hobi)...terus saya tinggalkan saja kegiatan seperti itu
walaupun pendapatan dari setting car audio seperti itu masih lebih besar
dari gaji saya di kantor saat ini. Apa itu disebut dagang?

Pun seandainya saya alihkan hobi tersebut jadi komersil, maka saya rasa saya
akan membuat hal-hal yang lebih baik lagi, bahkan saya akan membuat riset u/
setting car-audio itu untuk memperoleh produk yang lebih baik lagi...jadi
lama-kelamaan hobi saya itu akan semakin sempurna bahkan bisa dijual karena
memiliki nilai jual yang tinggi...itu baru namanya komersil.

Sekarang gimana dg hobi mengumpulkan perangko? Saya rasa sama juga. Karena
dengan mengumpulkan perangko, berarti kita menghargai perangko lama sebagai
barang antik. Dengan apa dihargainya? Otomatis yang paling mudah adalah
dengan nilai mata uang. Namun yang perlu diingat, bahwa yang namanya hobi
tetap tidak memiliki patokan harga. Semua harga yang terjadi pada transaksi
jual beli, hal itu ditetapkan oleh kesepakatan kedua pihak. TIDAK ADA
PATOKAN HARGA YANG PASTI, sehingga tidak bisa dikatakan," wahh harganya itu
mahal. Harga yang ini lebih murah." Iya khan?

Jadi saya rasa, jika PT Pos Indonesia mengkampanyekan dengan kata "Filateli
dan Investasi", maka saya rasa hal itu ada benarnya. Sebabnya kalau tidak
dari sekarang, kapan dong hobi mengumpulkan perangko itu memiliki nilai
investasi seperti hobi mengumpulkan lukisan yang telah lama menjadi ajang
investasi bagi para orang-orang berduit.

Dengan demikian, saya setuju dengan kampanye PT Pos Indonesia itu. Semoga
hobi mengumpulkan perangko itu tidak sia-sia, tetapi dengan adanya istilah
'investasi' maka diharapkan hal itu akan mengangkat citra para kolektor
perangko di Indonesia. 

Apalagi peranan surat-menyurat manual dengan menggunakan amplop diperkirakan
akan terus menyusut seiring dengan pertumbuhan pengguna e-mail yang sangat
pesat di seluruh dunia, seperti yang sedang saya lakukan ini. Otomatis,
peranan perangko akan semakin berkurang sehingga nilai koleksi perangko yang
telah kita lakukan itu akan semakin berharga. Setuju nggak?


Terima kasih.
ABRAHAM SIHOMBING


From:› "isandries21"  
Date:› Mon›Apr›29,›2002› 6:38 am
Subject:› Re: Ide Investasi Filateli Harus Diredam

Dalam hal ini PT Pos Indonesia memang kurang lihai.
Sangat terasa ada keinginan meraih omzet yg besar dari penerbitan 
benda filateli, namun tanpa konsep yg jelas agar pengumpul perangko 
percaya bahwa perangko Indonesia yg dibelinya akan (atau paling 
tidak, cukup) bernilai kelak. 
Kepercayaan adalah aspek mutlak untuk investasi, sebab bila pengumpul 
perangko Indonesia sangat banyak yg percaya, maka akan mengundang 
investor perangko menanamkan modalnya.
Soal komersialisasi, negara-negara seperti Australia, Jersey, USA dan 
beberapa negara Eropa lainnya juga melakukan. Contoh yg paling 
gamblang adalah penerbitan rutin shio tahunan dari kalender China.
Tetapi karena caranya yg halus dan memperoleh sambutan yg positif, 
hal demikian tidak dirasakan sebagai eksploitasi. Bahkan USA dengan 
galant-nya menerbitkan perangko Ied, untuk mengimbangi perangko shio.
Jadi bagaimana dengan PT. Pos Indonesia (Dit. Jen. Postel)??
Untuk shio tahunan, memang tidak secara gamblang diterbitkan, tetapi 
kita tahu secara samar/ terselubung dilakukan, cumaaaan tidak 
berkelanjutan. Kalau tidak begitu, bagaimana munculnya Naga pada 
salah satu seri Cerita Rakyat. Kembali lagi kepada konsepnya, maunya 
gimana??? 
Sampai saat ini, kalau diamati, upaya untuk memperoleh nilai 
investasi yg cukup baik, oleh PT Pos Indonesia (Dit. Jen Postel) yg 
dimainkan baru variabel jumlah cetak. Padahal jumlah cetak yg makin 
sedikit akan menyebabkan rawan KKN dan akan meningkatnya deal 
dibelakang punggung. Justru KKN dan deal seperti inilah yang 
menyebabkan merosotnya kepercayaan sebagian besar pengumpul perangko 
Indonesia.
Untuk PT Pos Indonesia, nampaknya masih mengabaikan banyak hal yg 
mampu menumbuhkan kepercayaan pengumpul perangko Indonesia, silahkan 
renungkan apa saja yg sudah dilakukan selama ini (termasuk cara-cara 
yg tidak benar dalam penerbitan benda filateli, melanggar aturan baku 
yg dibuat wsendiri dll.) dan berbuatlah gimana baiknya agar perangko 
Indonesia layak dikumpulkan oleh filatelis.

best rgds
isa


From:› "filateli"  
Date:› Sat›Apr›27,›2002› 12:56 am
Subject:› Re: Ide Investasi Filateli Harus Diredam

1. Kunci masalah: Apakah sudah waktunya mempopulerkan hobi filateli 
sebagai investasi?

2. Fakta yang ada: Banyak yang belum mengerti mahluk apa prangko itu, 
bagaimana cara mengumpulkan prangko yang benar, mana prangko asli/
tidak, sudah benar belum tarip posnya untuk kirim surat, dll. Mengapa 
banyak? Katakanlah kita lihat anggota filatelis (anggota perkumpulan 
filatelis) terdaftar ada satu juta orang dibandingkan jumlah penduduk 
220 juta orang. Satu berbanding 220, sedikit sekali. Bagaimana 
situasi ekonomi dan sosial Indonesia saat ini, memprihatinkan, bukan? 
Berapa banyak orang tak bekerja, berapa banyak kemiskinan?

3. Solusi; Bisa dilakukan kampanye investasi filateli, tapi orang 
atau pihak terbatas, misalnya pedagang, orang kaya raya, pejabat 
pemerintah. Jangan dilakukan di sekolah-sekolah umum.

4. Dampak: Mengapa tidak boleh di sekolah umum, masyarakat umum? 
a. Image filateli akan bernuansa aneka ragam, harapan cepat jadi kaya 
dengan mengumpulkan prangko semakin besar, padahal si pengumpul tak 
tahu mahluk apa prangko itu atau pengetahuan filateli rendah, 
sehingga tak heran banyak keluarga yang ingin menjual koleksi 
orangtuanya yang meninggal, sangat berharap berharga tinggi, benarkah 
koleksinya berharga tinggi?
b. Dampak jangka pendek mungkin saja akan semakin banyak cepat laku 
penjualan prangko. Jangka panjang mereka kecewa karena apa yang 
diharapkan, gara2 kampanye investasi, lain dengan kenyataan yang ada. 
Apakah Pos ingin model Hit and Run, masa depan masa bodeh deh, mau 
begitu?

5. Bukti; Silakan tanyakan dan banyak berdiskusi dengan filatelis 
senior (berusia) yang suka ngobrol, ngumpul saat pertemuan filatelis 
di berbagai perkumpulan. Apakah mereka puas dengan soal harga prangko 
koleksinya, khususnya prangko Indonesia yang mereka koleksi? Silakan 
tanyakan sendiri.

Moga-moga ini berharga kita pikirkan bersama. Lebih baik berpikir 
jangka panjang, membuat lahan padi yang baik, kuat segar, sehingga 
padi yang tumbuh menjadi padi yang baik, mudah dipanen dan enak 
dimakan nantinya.

richard
---------


From:› "filateli"  
Date:› Mon›Apr›29,›2002› 1:55 pm
Subject:› Re: Ide Investasi Filateli Harus Diredam

1. Filateli sebagai investasi nggak ada masalah di negara yang sudah 
maju seperti Jepng, AS, Australia, Kanada, dll.
Tapi di Indonesia masih belum waktunya menggembar-gemborkan ide 
investasi ini, Pos malah menyulut kecemburuan sosial.

2. Lepas dari negara Indonesia yang masih berantakan ekonomi dan 
jauhnya perbedaan kelas ekonomi, perlu dicari solusi. 

3. Idenya; Jangan jadi jagoan di negara sendiri, bagai katak dalam 
tempurung. Lakukan pemasaran ke luar negeri. Lihat, banyak negara 
kecil, benda filatelinya maju dan dicari-cari banyak filatelis 
internasional. Apakah anda tahu negara Faroyar? Negara kecil jarang 
ada yang tahu di utara Inggris, prangkonya bernilai baik. Anda tahu 
Lichtenstein, negara kecil, jarang terdengar, prangkonya bernilai 
filateli baik, dll.

4. Ke luar negeri, orang asing banyak duit, mau soal ide investasi 
dll, nggak masalah, dan Pos tambah cepat kaya banyak devisa mengalir 
ke Indonesia.

5. Untuk itu, bentuk tim profesional pemasaran yang bisa bergerak 
bebas dan jauh dari birokrasi. Ketua jangan dipegang orang Pos, tapi 
punya jiwa seperti orang pos. Konkrit dan contoh, ambil orang 
perkumpulan filatelis yang punya wawasan luas internasional dan 
mencintai Pos. Tentu dalam tim itu ada orang pos, satu saja cukup 
yaitu Manajer Bisnis Filateli pak Andang. Ide ini pernah saya 
lontarkan kalau tak salah tahun lalu atau 2 tahun lalu di milis ini 
atau juga mungkin kepada pak Soekaton saat ke Tokyo (PhilaNippon 
2001). Tim ini harus benar-benar profesional dan punya rencana jelas, 
target dan semangat juang tinggi.

Itu saja dilakukan Pos saat ini. Bisa nggak?
Andalkan pemasaran dalam negeri, lha wong yang punya duit di dalam 
negeri menganggap prangko barang untuk anak-anak?
Kalau di luar prangko Indonesia semerbak, digandrungi, pasti...sekali 
lagi pasti...orang kayak Indonesia akan beli banyak prangko Indonesia 
dan mempopulerkan sendiri ke anak-anak atau karyawan dan teman-
temannya.

Tertarik Pos????

richard
---------


Efendy Nyoman  	›  
Reply-To›:› 	
PRANGKO@yahoogroups.com 	›
To›:› 	
PRANGKO@yahoogroups.com 	›
Subject›:› 	
Re: [PRANGKO] Tambahan 	›
Date›:› 	
Wed, 01 May 2002 17:33:28 +0700 	›

Membangun negri ini menjadi negara besar dan makmur, , bukan tergantung
diatas pundak seorang presiden/kepala negara.saja,
tetapi lebih tergantung kepada sistem(aturan) dan elemennya(manusia)
Jika melihat kondisi sekarang, kita masih membutuhkan 2 generasi lagi untuk
memperbaiki sistem dan elemennya.
Anda bisa lihat bagaimana HUKUM kita sekarang, dan bagaimana manusia2
yang sekarang yang ada di Bumi Persada ini, bagaimana konflik dan teror dan
suap-menyuap terus terjadi.
HARUS ada TANGAN BESI untuk mengaturnya dan memperbaikinya
Buktinya Malaysia sanggup melaju dengan mulus, termasuk melewati krisis 1997.

Bukan dengan cara memiskinkan si kaya dan meng'kaya'kan si miskin, sehingga
jika dipaksakan sama saja menerapkan paham maxisme dan komunisne.
Di era millienium ini, sistem kapitalis masih berlaku bagi setiap orang,
mereka diberi
peluang yang sama, fasilitas yang sama dan pendidikan yang sama, saya kira
tetap
akan berlaku hukum alam, benih yang terbaiklah yang akan selalu survive!
Bagaimana kita dapat menyuruh seorang tukang beca, dengan latar pendidikan
dan
kehidupan masa lalu , tiba-tiba menjadi jutawan . dan bagaimana seorang
konglemerart
yang harus kita paksakan meninggalkan semua harta bendanya dengan paksa dan
hanya
boleh bawa sandal jepit hengkang keluar?
(Kasus ini telah terjadi di bulan Mei 1998, dan kenyataannya situasi ini
tidak akan berubah
drastis sepanjang dunia ini masih berputar. Jika si petani ulet dan rajin,
dengan didukung bibit
padi unggul dan lahan sawah yang memadai, maka hasil panen yang diharapkan
akan baik).
Kita tidak menganut sistem komunis lagi, dimana tidak ada membedakan si kaya
dengan si
miskin, buktinya China sendiri telah meninggalkan paham ini secara
perlahan-lahan. Dan tetap
berlaku orang yang ulet dan pintar akan berada diatas mereka yang biasa-biasa
saja. Dan orang yang malas dan bebal akan tetap menjadi beban sosial yang
ditanggung oleh masyarakat dimana mereka berada. tetapi perkembangan dunia
sekarang sudah lain, dimana banyak sekali manusia yang pintar dan
berintelektual tinngi, tetapi tidak mendapat status sosial yang memadai,
sehingga terjadilah keamburadullan yang terus menurus melanda negri ini.
Lain dengan Jepang, setelah PD II, mereka sangat terpukul dan menjadi negara
termisikin di dunia pada saat itu, tetapi akhirnya dapat bangkit menjadi
negara yang besar dan makmur. (Pak Susilo pasti lebih paham hal ini).
Kita tetap mengharapkan negara ini suatu hari akan bangkit lagi, tetapi kapan
waktunya?
Hanya kita dan anak-anak generasi penerusnya yang akan mengetahuinya kelak.
Filateli memang menjadi salah satu tolok ukur "kemakmuran"suatu negri!


HOME | Today's News | Shopping | Add URL

Copyright 1999-2002 © SuratkabarCom Online